Selama kita saling mengenal, apakah pernah ada saat dimana aku tidak menginginkanmu?

Aku tidak bisa mengingatkannya, karena saat-saat tersebut sepertinya tidak pernah ada.

Being with you, I will never be afraid of falling in love. Why should I be afraid falling to someone whom God sent to me? I use my logic and faith to finally decide that it must be you the answer of all my question.

Hello, dude, welcome home πŸ™‚

Hello, Goodbye!

Hello, I’m sending speechless voice note for you who decided to fly away through the oxygen.

Hello, I’m talking to a picture of you in my dusty memories beneath my logic mind, wish somehow the imagination coming real and reply my greeting.

It was you, so damn, it was always you, the one I’m thinking about all those years, the one reason why I stand, why I lie down, why I’m stupidly scrolling my phone, I smile deeply I’m crying knowing you will go away to the other heart.

Hello, it’s me. Don’t you realize it?

Hello, before you realize it, I’m saying goodbye.

This is me, your lover, saying good bye.

A Postcard for Future Life

Bukankah agama kita, Islam, telah menunjukkan contoh seadil-adilnya perlakuan, Bi? Kita diizinkan untuk merasakan kuat sesuai fitrah kita masing-masing. Aku diizinkan merasakan jadi kuat takkala berjuang untuk persalinan Ananda. Abi diizinkan merasakan jadi kuat saat berjuang mencari nafkah yang halal untuk keluarga.

Terima kasih, Bi, telah menguatkan juga rumah mungil kita dengan lantunan Al-Qur’an dan sujud-sujud panjangmu di keheningan malam. Engkau membangun tiang yang kokoh bagi keluarga ini, tiang tak kasat mata yang menjulang hingga mengetuk pintu langit.

Terima kasih untuk setiap nasihat Abi, maafkan aku yang seringkali lalai mensyukuri pemberian Allah melalui Abi.

Wahai Abi yang Ananda dan Ami sayang, tiap peluh yang engkau seka dalam pekerjaanmu, semoga menjadi sajak-sajak cintamu pada Allah dan Rasulullah. Semoga tiap langkah kakimu, gerak tanganmu, tutur lisanmu, dan setiap sendi yang engkau pergunakan untuk bekerja, menjadi butiran zikir yang kan mengangkat derajat keluarga kita di hadapan Allah, menjadi keluarga yang disebut-sebut di antara para malaikat.

Bi, sayangilah Ananda karena Allah.

Cintailah Ami karena Allah.

Aku ridho Abi sebagai imam dunia-akhiratku. Ridhokah Abi padaku, yang hanya seorang perempuan akhir zaman yang telah Allah pilihkan untuk menjadi teman hidupmu?

Collaboration – Girl’s Side

Ini adalah penggalan dari tulisanku untuk cerita yang ditulis temanku. Yeah, ini pertama kalinya aku kolaborasi nulis. Walau pun cuma sepenggal dari keseluruhan ceritanya (yang nggak mungkin aku share di blog sendiri hehe), udah lama juga aku nggak nulis dalam bentuk narasi dan dialog begini hehe.

Dia kira kamu tengah mengigau.

Dia butuh waktu beberapa saat untuk mencerna semua perkataanmu. Tidak ada yang lebih ia khawatirkan daripada seorang teman yang berubah menjadi lover.

Dan saat itu, baginya kamu adalah teman dekat yang bisa menjadi perantara antara dia dan si anak bertopi itu.

“Apaan nih, haha.” Dia menjadi bingung, karena kamu seolah menunggu apa yang ia pikir tidak memerlukan jawaban.

Kamu tidak tahu, dalam otak perempuan itu berpilin banyak memori kebersamaan kalian. Ia ingat kamu adalah teman sekaligus sparing partner kebanggaannya (selain si anak bertopi, tentunya). Ia ingat kamu adalah temannya yang memahami perasaanmu sebagai perempuan, yang hanya bisa berkode dan menunggu. Ia ingat bahwa kamu adalah temannya, yang pernah bercerita tentang gadis kelas sebelah yang kamu kagumi.

Dalam benaknya, kamu adalah sahabatnya. Yang tak terniatkan untuk mengubah status itu untuk selamanya.

“Duh gimana ya.”

Dia masih berupaya mencairkan bisu yang mulai membungkam udara di sekitar kalian. Ia memikirkan cara, berbagai hal, sampai jalur terpendek syaraf otaknya mencetuskan, “Gue… gue… nggak mau pacaran sebelum 16 tahun.”

Sudah. Selesai. Dia pikir kamu puas dengan jawaban itu.

Ulang tahunnya masih dua bulan lagi, anggap saja kamu telah memilih tanggal yang salah untuk memintanya berkomitmen. Anggap saja kamu terlalu cepat baginya yang masih berusia 15 tahun.

Kamu mengangguk, terkesan dalam wajahmu ingin komplain tapi waktu tak bisa kamu permainkan. Kamu undur dengan menarik janji kalau kamu dan dia harus tetap jadi sahabat apapun yang terjadi.

“Iya iyaaa…. masa kita ga temenan lagi gara-gara ini,” kemudian dia tertawa.

Masih ingat dengan senyum dan tawanya? Asal kamu tahu, berpura-pura ceria adalah keahlian yang ia latih bertahun-tahun. Ia berharap kalian tetap baik-baik saja karena dia tidak ingin kehilangan seorang teman pun, apalagi teman sepertimu.

Kamu pergi. Kembali ke tempat dudukmu. Dia tersandar di tembok sisi kelas, sembari merapikan kotak makannya.

Setelah itu pikirnya mengangkasa, tertahan di langit-langit kelas yang muram. Pelajaran selanjutnya tak ia hiraukan karena ada nurani yang mengajak otaknya berdialog.

Nurani : “Dia suka kamu. Dia nembak kamu. Pernah kepikiran nggak sih dia ngomong gitu?!”

Otak : “Dia nggak mungkin suka kamu. Oke? Nggak mungkin.”

Nurani : “Kenapa? Tadi dia bilang gitu, kok. Kenapa kamu ngeles sok sok an nggak mau pacaran sebelum 16?”

Otak : “Aku emang nggak mau pacaran sebelum 16.”

Nurani : “Tapi kalau anak bertopi yang ngajak, kamu pasti mau kan? Kamu nyari-nyari alasan aja. Kamu nggak suka sama dia? Kenapa? Kenapa malah berlarut ngarepin orang lain yang nggak ada perasaan sama kamu dan mengabaikan orang yang sayang sama kamu?”

Otak : “Pertama, apa bisa aku tiba-tiba aja ngegantiin orang yang selama ini aku suka dengan orang lain? Orang itu udah aku perjuangin banget. Walaupun mustahil, tapi aku masih mau menunggu.

Kedua, emangnya kamu nggak tau, sahabatku itu sukanya sama cewe kelas sebelah! Cewe kelas sebelah yang super cakep dan pinter. Menurutmu kalau dia yang awalnya suka sama cewe cantik dan pintar tiba-tiba beralih ke kamu yang super standar, apa itu bukan yang namanya pelarian?

Ketiga, kamu ngga denger ucapannya tadi, dia cuma nggak mau kamu terluka kalau kamu nantinya nggak bisa bersama si anak bertopi. Dia kasian sama kamu. Dia kasian, karena kamu adalah coward yang nggak bisa mendapatkan apa yang kamu inginkan. Dia underestimate kamu, dikiranya kamu pasti bakal tersakiti? Kalau justru kamu berhasil memenangkan hati si anak bertopi?

Enough, Nurani. Dia nggak suka sama kamu. Dia cuma kasian sama kamu.